Home
» Puisi Mahabbah
» [Puisi] Rindu yang Ramai Disuarakan Namun Sepi dalam Teladan
[Puisi] Rindu yang Ramai Disuarakan Namun Sepi dalam Teladan
Rindu yang Ramai Disuarakan
Namun Sepi dalam Teladan
Kami menyebut namamu dengan suara penuh cinta
namun langkah kami sering menyimpang dari arah cahaya
lidah kami manis melantun shalawat penuh irama
akan tetapi, perilaku kami kerap membantah makna yang sama
Kami sering berkata rindu dalam dada membara
di mimbar tinggi, di perayaan yang memecah suasana
namun rindu itu rapuh saat nafsu ikut bicara
sebab meneladanimu menuntut luka dan sabar yang nyata
Kami terharu mendengar kisah engkau dilempari cela
air mata jatuh, hati tersentuh, dada terasa sesak sejenak saja
esoknya kami mencaci saudara dengan kata penuh bisa
seolah sabar hanyalah cerita, bukan tindak yang perlu dijaga
Kami bangga menyebut diri umat pilihan semesta
namun amanah kecil sering kami khianati tanpa rasa
engkau jujur bahkan pada mereka yang memusuhi tanpa jeda
kami licin berdalih saat berdusta, untuk menyelamatkan harga diri semata
Kami berdalih zaman telah berubah dan tak lagi sama
seakan akhlakmu usang dimakan usia dunia fana
padahal engkau hidup di masa paling kejam dan durjana
namun tetap lembut, adil, dan setia pada nurani yang mulia
Kami memperdebatkan jubah, sorban, dan rupa
sementara kasih dan adab kami letakkan di sudut gelap jiwa
kami ribut soal simbol agar tampak paling mulia
padahal engkau mengajarkan akhlak sebagai mahkota utama
Engkau memaafkan saat luka menganga di dada
kami menyimpan dendam hanya karena beda suara
engkau merangkul yatim tanpa hitung harta
kami berpaling cepat agar hidup tak terganggu sedikit saja
Rindu kami menguat setiap bulan kelahiran tiba
spanduk terbentang, pujian dilantunkan, air mata sengaja dijaga
namun selepas acara, lisan kembali tajam angkara
seakan rindu hanyalah busana musiman yang mudah dilepas tanpa rasa
Andai rindu kami pahami maknanya
ia takkan puas pada syair dan suara belaka
rindu sejati adalah jatuh bangun meniru teladan nyata
meski terseok, meski lambat, meski gagal di mata manusia
Engkau mengajarkan diam lebih mulia dari dusta
kami memilih bicara panjang meski kosong dalam makna
engkau adil bahkan pada yang dibenci jiwa
kami hanya adil saat menguntungkan golongan semata
Wahai Insan yang kami rindu di akhir masa
maafkan rindu kami yang pandai berkata namun malas bekerja
jika kelak kami berharap berteduh di telagamu sana
jangan biarkan rindu kami kosong tanpa amal yang nyata
Sebab kami sadar, cinta tanpa adab hanyalah nama
dan rindu tanpa tindak hanyalah gema tanpa jiwa
jika kami benar mengaku mencintaimu sepenuh rasa
tuntun kami untuk meneladanimu, meski sederhana dan penuh luka.
__________
Created By: ZainSyafir