Home
» Puisi Mahabbah
» [Puisi] Rindu yang Diperagakan Kata Namun Kehilangan dalam Tindak Nyata
[Puisi] Rindu yang Diperagakan Kata Namun Kehilangan dalam Tindak Nyata
Rindu yang Diperagakan Kata
Namun Kehilangan dalam Tindak Nyata
Kami menabur namamu dalam gema suara
menyulap rindu jadi anggun dengan irama
namun ketika malam meminta sikap yang sederhana
kami menyelipkan nurani ke saku yang paling terlupa
Di hadapan kisahmu, kami menunduk pura-pura
air mata jatuh teratur, rapi, dan sementara
lalu esok hari lidah kembali tajam tanpa jeda
seolah sabar hanya layak tinggal di catatan cerita
Kami membangun pagar dari dalil dan bahasa
menyaring manusia siapa kawan, siapa cela
padahal engkau datang merobohkan sekat-sekat lama
membuka pintu bagi yang remuk serta tak bernama
Dalam riuh pujian, kami berebut posisi utama
siapa paling lantang, siapa paling berjasa
sementara teladanmu berjalan sunyi di belakang kita
terinjak pelan oleh hasrat ingin dipuja
Rasa ini bukan soal rindu yang tak bersuara
melainkan cinta yang enggan membayar harga
meniru langkahmu berarti mengalahkan ego yang lama
dan itu luka yang tak semua berani menjalaninya
Kami ingin dekat di ujung kisah nanti di sana
di air jernih yang sering dilukiskan para pencerita
namun jalan tersebut bukan dibuka oleh sorak dan kata
melainkan oleh adab kecil yang setia meski tak dipuja
Rindu ini kerap sekali berubah rupa
dari doa menjadi angan, dari cinta menjadi wacana
hingga kami lupa mencintaimu adalah tindak yang nyata
bukan sekadar menyebut nama dengan suara terbuka
Jika kelak kami mengaku sebagai yang setia
biarlah pengakuan itu diuji di dunia yang fana
sebab cinta yang tidak menjelma dalam bentuk nyata
hanyalah gema panjang yang kehilangan makna
__________
Created By: ZainSyafir